Green lifestyle

imagesCA0VO4MK

Picture Courtesy: I love Green (http://febrianawajijapanese.blogspot.com/)

Indonesian Law. 23/1997 on Environmental Management states: ” Every human being has the right to participate in environmental management in accordance with the rights and legislation in force ” .
Furthermore : ” Every human being is obliged to maintain the preservation of the environment as well as prevent and control pollution and environmental destruction . ”
As a servant of God Almighty on earth, we have entrusted to maintain what is in the earth . God Almighty we are given food , clothing , houses , everything from the earth . So is it fair we return the waste and toxins that destroy the earth ?
Data from many countries show that more environmental pollution victims are women and children . Various household chemicals inhaled more women and children at home . While toxic gases collected at an altitude of less than 1 meter , inhaled more children . The disruption of the Earth , resulting in the number of people with cancer , asthma and children autism increasing every year .
Because of the lack of opportunity to get information or counseling about pollution and environmental destruction , the role is not yet seemingly real people . Society can and must play a role in sustaining the environment . Start of ourselves, and then pass on to family and our immediate environment . Lifestyle change is not easy , but we must start now . Of course we do not want our children and grandchildren a few years longer generation physically weak , low intelegensianya , because breathing polluted air or eating contaminated food .
Children at an early age should receive environmental education , in order to have environmentally sustainable lifestyle . The term is now a green lifestyle .

Green lifestyle is behavior that adheres to the rules of the 4Rs : Reduce ( reduce consumption ) , Reuse ( reuse ) , Recycle ( recycle ) and Replant ( replant )

UU RI No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan : “Setiap manusia mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan hak dan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Selanjutnya:”Setiap manusia berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.” Sebagai hamba Tuhan YME di bumi, kita mendapat titipan memelihara apa yang ada di bumi. Kita diberi Tuhan YME makanan, pakaian, rumah, semuanya dari hasil bumi. Lalu apakah pantas kita kembalikan sebagai sampah dan racun yang merusak bumi? Data dari berbagai Negara menunjukkan bahwa yang lebih banyak menjadi korban pencemaran lingkungan adalah perempuan dan anak2. Berbagai bahan kimia rumah tangga lebih banyak dihirup perempuan dan anak2 yang berada di rumah. Sedangkan gas beracun yang terkumpul pada ketinggian kurang dari 1 meter, lebih banyak dihirup anak-anak. Tidak terpeliharanya bumi, mengakibatkan jumlah penderita kanker, asma dan anak2 autis setiap tahun makin meningkat. Karena kurangnya kesempatan mendapat informasi atau penyuluhan tentang pencemaran dan perusakan lingkungan, peranan masyarakat masih belum telihat nyata. Masyarakat bisa dan wajib berperan dalam melestarikan lingkungan hidup. Mulailah dari diri kita sendiri, lalu menularkan kepada keluarga dan lingkungan terdekat kita. Merubah pola hidup tidak mudah, akan tetapi harus kita mulai dari sekarang. Tentu kita tidak ingin anak-cucu kita beberapa tahun lagi menjadi generasi yang fisiknya lemah, intelegensianya rendah, karena menghirup udara tercemar atau makan makanan tercemar. Anak-anak sejak usia dini perlu mendapat pendidikan lingkungan, agar memiliki pola hidup yang berwawasan lingkungan. Istilah sekarang adalah pola hidup hijau.

Pola hidup hijau adalah perilaku yang menganut kaidah 4R yaitu : Reduce ( mengurangi pemakaian), Reuse ( menggunakan kembali ), Recycle ( mendaur ulang ) dan Replant ( menanam kembali ).

Read more:

ANTARA News (2006), Siasat Hijau di Belantara Beton Jakarta, http://www.antara.co.id/view/?i=1153020362&c=WBM&s=

Djamaludin Suryohadikusumo (mantan Menteri Kehutanan RI), Mari membuat kompos skala rumah tangga, (http://hasanpoerbo.blogspot.com/2006/05/mari-membuat-kompos-skala-rumah-tangga.html).

Djamaludin Suryohadikusumo (mantan Menteri Kehutanan RI), Sampah, tanggung jawab siapa ?, (http://hasanpoerbo.blogspot.com/2006/05/sampah-tanggung-jawab-siapa.html)

Eko Junaedy (2008), Akhirnya kita punya undang-undang pengelolaan sampah, (http://www.dml.or.id/dml5/content/view/149/2/).

Eko Junaedy (2006), Aksi Bersih untuk Hijau: Belajar Mengelola Sampah,  (http://www.dml.or.id/dml5/content/view/110/2/).

Harry Firman (2004), KIM-LIPI, Menulis Karya Ilmiah, Perang Melawan Sampah (2004), http://www.ampl.or.id/detail/detail01.php?tp=artikel&jns=wawasan&kode=153

Prigi Arisandi, Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (2002), Mengelolah Sampah Dapur Menjadi Kompos, http://www.terranet.or.id/tulisandetil.php?id=1342

RISTIE DWI HANDAYANI (NIM 24006098), Central Library Institute Technology Bandung (2008), Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Perkotaan Berbasis Masyarakat Di Banjarsari Jakarta Selatan, http://www.digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-ristiedwih-29787

SUARA PEMBARUAN DAILY (2004), Lebih Gampang Mengalahkan Belanda ketimbang Sampah, http://www.suarapembaruan.com/News/2004/01/02/Utama/ut05.htm

I love Green (http://febrianawajijapanese.blogspot.com/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s